Menarik memang mencermati dilema Motor listrik, Garansindo sebagai pembesut motor listrik nasional, tampak cukup geram terhadap Aisi dan Honda, karena manuver yang dilakukan menurut Bos Garansindo merupakan pengarahan Motor listrik ke arah yang negative!

bisa baca cerita lengkap-nya di artikel madev sebelum ini (surat terbuka BOs Garansindo serang AISI dan Honda)
Margono Tanuwijaya, Direktur Marketing AHM pun langsung menanggapi hal ini.
“Bukan masalah motor lama. Kita hanya survey kebutuhan orang akan motor listrik. Survey ini melihat bagaimana orang mengecas motor listrik, infrastrukturnya perlu yang bagaimana, kemampuan jarak tempuh yang diperlukan berapa, kecepatan yang diinginkan berapa,” Hal ini diungkapkan Via otomotifnet.com
Jadi menurut Mr. Margono, mereka hanya ingin melihat kebutuhan yang sesungguhnya, memang kapasitas motor hanya setara motor 50cc, jika ternyata gak cukup dan harus setara matic modern 125cc, itu tentu masukan, dan tentu nantinya akan berpengaruh dengan harga jual-nya, ini juga akan termasuk infrastrukturnya bagaimana, bahkan Hondapun mungkin akan memikirkan tiap bengkel jaringan AHASS yang sudah besar bisa menjadi tempat khusus pengecasan Motor listrik kedepannya.
“Itu motor, kita datangkan khusus untuk survey di sini. Hanya untuk keperluan survey. Untuk mengembangkan motor listrik banyak hal yang harus dipikirkan. Tidak hanya motor tapi juga kemampuan baterai, berapa lama waktu mengisi baterainya dan sebagainya,” lanjut Margono
Sepertinya ini hanya kesalahpahaman antara bos Garansindo dan AISI serta Honda.
Monggo share komentarnya.
- Gojek, Grab, dan Gugurnya Karya Anak Bangsa
- Life In Jakarta, berkunjung ke Toko Buku terbesar di indo dan cafe cozzy di Matraman
- GridOto Award 2024: Yamaha Dominasi Penghargaan dengan Pencapaian Spektakuler
- Yamaha NMAX “TURBO” TechMAX: Bukti Skutik Premium Terbaik di Kelasnya
- Harmoni Klasik dan Modern: Yamaha XSR 155
- Kado Akhir Tahun Istimewa, Yamaha Serahkan NMAX “TURBO” untuk Pemenang Yamaha Day Competition di Bandung
- Yamaha STSJ Gelar Synergy Ride 2024, Perkuat Kolaborasi dengan Komunitas Motor
- Yamaha STSJ: 50 Tahun Berbagi, Menginspirasi Negeri
- Menpora Dito Ariotedjo dan Ketua Umum IMI Bambang Soesatyo Apresiasi Aldi Satya Mahendra sebagai Juara Dunia Bersama Yamaha Indonesia
- Aldi Satya Mahendra Naik Kelas, Siap Bertempur di World Supersport 2025 Bersama Yamaha
- Promo Akhir Bulan Yamaha STSJ: Diskon Besar, Hadiah Eksklusif, dan Motor Impian Jadi Lebih Dekat
- Fazzio Hybrid Ajak Gen Z Tampil Lebih Skena dan Auto Worth It di Fazzio Day!
- Semakin Di Depan: XMAX Connected Terbaru Hadir dengan Sentuhan Sporty dan Warna Elegan
- Yamaha Meluncurkan Varian dan Warna Terbaru Fazzio Hybrid Series, Skutik Favorit Gen Z yang Auto Worth It
- Journalist Max Community (JMC) Touring Lagi & Meriahkan Gelaran MAXi Yamaha Day Bandung 2024
- Apresiasi Para Pengguna MAXi, Yamaha Ajak Konsumen Touring Spesial ke Karimunjawa
- Upgrade Motormu dengan Paket Hemat Yamaha, Dijamin Nggak Nyesel!
- Kolaborasi Unik: Yamaha dan Peau Jeune Hadirkan Paket Lengkap untuk Gaya Hidup Modern
- NMAX Tour Boemi Nusantara: Jelajahi Wisata Sejarah Kota Bengkulu Hingga Wisata Kuliner di Kota Tertua di Indonesia
- MERDEKA Bareng Yamaha: Raih GEAR 125 dan Nikmati Kebebasanmu!





Rame nih
LikeLike
Harusnya bilang, motor listrik yang sama kemampuan dengan motor mesin bensin 50cc, gak cocok di Indonesia, karna jarak tempuhnya terbatas.. #uppss keceplosan..
LikeLike
Ada yg sensi dan baper keknya
LikeLike
Klo mau sadar cinta tanah air ya dukung lah ploduk2 dalam negeri, bagaimanapun kualitasnya, klo tidak ya gak maju2 cm ngandelin bongso jepun… cmiiw
LikeLike
Sya uda inden…. Hehe
LikeLike
Josss! Pokoknya jgn ada lagi penjegalan mobil listrik motor listrik Nasional…
LikeLike
Belinya dimana ? Dealer ?
LikeLike
Online….
LikeLike
Ditunggu review’y, sekalian beli baterai cadangan’y buat jaga2.
LikeLike
Haish msh lama…. 2017 bru slesai riset…2018 bru smpe ke konsumen wkwk
LikeLike
Kalau mau bicara kesiapan motor Listrik. Perusahaan sekelas astra dan honda tentunya akan jauh lebih siap jika memang sudah momennya. Bayangkan jika di setiap bengkel resmi atpm bisa tukar batterai dgn bat yg sudah di chass. Kekuatan modal dll, infrastrukur dan teknologi. Honda pasti jauh lebih siap.
So jangan dibawa baper.
LikeLike
Bener bro, kalo cuma ngandelin charge doang bisa di mana-mana, masalahnya kan ga kayak mesin bensin yg kalo kehabisan tinggal isi beberapa detik langsung bs ditancap gas lg, masa perlu nunggu beberapa jam baru bisa dinaiki lg. Alangkah baiknya kalo bisa tuker baterai dengan yg udah ready listriknya, kayak sistem beli aqua galon
LikeLike
Mtor listrik garansindo uda sperti itu
LikeLike
Jaringannya apa sebanyak dealer Honda?
Orang bodoh juga bisa jawab.
Mau kerjasama dengan pertamini? Pertamini milih jual bensin.
LikeLike
kalau ga nekat ini negara ga maju2
liat dulu era injeksi, pada ketakutan semua bla bla bla, akhirnya skarang ?
itu BMW aja udah berani jual mobil sportnya si i8 listrik, mau miara juga listrik rumah lo harus 4400w buat ngechas bmw doang
ini motor listrik udah siap removble battery kok
di kota mah pp ke kantor aja cukup pake banget
pulang kantor chas aja sambil tidur kek hp, abis tengah jalan? cari aja tempat yg ada colokan, toh requirement batterai nya ga segede i8 kok
inget ini motor listrik hampir free maintenance kayak di motor ZERO nya orang bule (kecuali baterainya amit2 mahal tuh zero)
IMHO
LikeLike
Honda Awalnya merintis apakah lngsung bnyak jaringanny??kan ndk…
LikeLike
betul
terus pas dulu injeksi ada di honda apa semua bengkel nya honda siap ? kan engga
malah lebih siap si yamaha waktu itu
cmiiw
LikeLike
garasindo baperani, takut honda masuk juga keknya
LikeLike
Yang jadi pertanyaan kenapa honda minjemin yg setara motor bbm 50cc, padahal motor bbm aj sekarang min 110cc, apa mereka gak punya motor listrik yg setara motor bbm 110cc, or akan keluar kesimpulan belum waktunya ataukah motor listrik setara 50cc motor bbm gak cocok dimari, klo bs seh diapresiasi aj dl, biarkan berkembang, toh dunia jg gek ngembangin ini, mosok yo dimari mau ketinggalan terus gr” diboongi belum waktunya, bukanya ada yg namanya kaizen, boro” mau transfer teknologi motor listrik, ni yg motor bbm aj brand lokal (motnas/mobnas) aj gak punya, mgkn orientasinya lebih ke bisnis drpd transfer teknologi
LikeLike
Makanya ini yang disebut pembodohan, kepentingan bisnis mengalahkan segalanya
LikeLike
birokrasi yg menghambat transfers teknology serta oknum. jaman soeharto kita disuruh belajar sama org jepang dan bule, biar transfer teknologi. makanya proyek soeharto itu konsultan asing mesti joint ama lokal, sayang oknum pejabat lebih mementingkan transfer uang
LikeLike
daripada baperan mending garasindo melakukan test tandingan dan libatkan blogger dan undang media….coba test jalan tuh si gesit di berbagai kondisi jalan baik macet ataupun diajak ujan2an…biar masyarakat semakin tertarik dg motor listrik…
LikeLike
wahhh hondut ternyata ????
tak patuttt !!!
LikeLike
Om madev buatin artikel kelebihan kekurangan sepeda motor listrik, sama biaya per km nya di banding motor konvensional
LikeLike
Oke noted…
LikeLiked by 1 person
Kalau memang untuk survey, knapa bukan motor yg ber cc sama, apple to spple, dengan motor konvensional. Sehingga hasil surveynya tidak NEGATIF seperti tercermin dari koment para kacungnya di AISI. Faktanya, GESIT sudah bisa lari setara matic sekelasnya, dengan pengecasan ulang hanya butuh waktu 1,5-3 jam.
Kalau pabrikan Jepang itu punya niat baik untuk balas budi pada Indonesia yg telah bikin mereka pabrikan terbesar, mestinya bisa merangkul produk hasil kreativitas anak bangsa tsb dengan menjadikan jarungan dealer dan bengkelnya sbg tempat penjualan, pengecasan battere dan servicenya. Bukannya malah membawa ke Indonesia motor listrik “abal-abal (50cc)” untuk dinilai oleh konsumen yg biasa menggunakan motor 110/225 cc. Bukankah benar ini namanya PEMBODOHAN. Dan orang2 bodoh yg termakan strategi culas AHM ini siapa lagi kalau bukan para petinggi AISI !!!
LikeLike
Maaf 110/125 cc
LikeLike
dijepang ama erofa 50 cc khan emang buat kurir, ngak perlu sim di sana, masalah cc itu khan masalah waktu chargernya,
LikeLike
lagi rame nih, kemarin ketum AISI juga ngomnong motor listrik nggak berkembang
ini data yang membantahnya
http://riderismo.blogspot.com/2016/09/mempertanyakan-argumen-ketua-umum-aisi.html
LikeLike
GESITS jangan mau dijegal. segera bikin test ride jakarta-bali. ayo buktikan kehebatan GESITS.
LikeLike
om madev,kayaknya baru gencar banget ni si gesits sama honhon, nah saya mau tanya nih,kalau selis gitu masuk motor listrik apa ndak ya?kan secara si merk selis udah ada yang bentuknya full kayak motor,dijawab ya om,pengen tahu aja opininya gimana?
LikeLike
Tpi selis msh sparuh kapasitasnya dbndingkan gesits….. Kecepatan maksmal 45km/jam, gesits 100. Daya jelajah skli cash 55km… Gesits 80-100km..
Walaupun msh lbh baik dri mtor listrik yg dipakai honda buat servei
Jadi gesits sangat cocok gantiin mtor konvensional, dripada selis
LikeLike
Tapi yang model tertentu selis berani klaim top speed up to 100kmh loh om, yang bikin saya kepo, kenapa selis yang udah punya base sepeda listrik gak ikut2an menjamah dunia motor listrik. Sama 1 lagi nih, kalo beli selis yang tipe trail misal, itu dapet stnk ndak ya om? 😁
LikeLike
Oh ya??? Nanti sya cri info lbh dlam…
Mngkin nunggu peraturan dri menteri perindustrian……
LikeLike
Dasar kacung nippon…kalo emang takut bersaing…klian g lbh dr penghianat bangsa…sama dgn penguasa pengambil keputusan yg membumihanguskan mobil listrik selo..ntah krn karya yg dhasilkn pninggaln rezim sby ato krn tkanan pihak asing
LikeLike
motor listrik ngak bisa ekonomis secara bisnis, kalu dipake kerja, isi sampe 2 jam, terlambat sampai kantor. makanya ahm blg spt itu. kalu dijepang mungkin dpt subsidi pemerintah. kita bicara fakta teknis, busines, bukan bicara pencitraan.
LikeLike
yakin tuh garasindo cuma takut lahan bisnisnya dikeruk honda makanya koar2 …. klo dia msmpu harusnya tunjukan keunggulsnnya buks dg BC kaya gitu
Powerbank xiaomi 10000mAh original via @bukalapak https://www.bukalapak.com/p/handphone/power-bank/2b1v7r-jual-powerbank-xiaomi-10000mah-original?utm_source=apps
LikeLike
Masalah ngecharge mungkin bisa diselesaikan dengan teknologi CHAdeMO.
Kalau saya ngeliat pemerintah milih ev neo karena sudah lama mengaspal di jepang dan eropa, sehingga masalah standar regulasi teknis mereka lebih paham. jadi ketika pemerintah membuat regulasi yg terkait, mirip dengan regulasi internasional namun disesuaikan dengan kondisi Indonesia.
LikeLike